Daftar Isi
Paul Joseph Goebbels lahir pada 29 Oktober 1897 di Rheydt, Jerman, dari keluarga Katolik kelas menengah. Ia mengalami cacat fisik akibat penyakit polio yang membuat kakinya pincang, sehingga tak bisa ikut bertugas di Perang Dunia I. Keterbatasan fisik ini justru membentuk kepribadiannya: penuh ambisi, haus pengakuan, dan merasa perlu membuktikan dirinya melalui kecerdasan serta retorika. Goebbels menempuh pendidikan tinggi, meraih gelar doktor dalam bidang sastra, dan awalnya bercita-cita menjadi penulis serta intelektual.
Namun, kekecewaan pascaperang membuatnya tertarik pada ideologi nasionalisme ekstrem. Pada awal 1920-an, ia bergabung dengan Partai Nazi dan segera menunjukkan bakat luar biasa dalam berbicara di depan massa. Goebbels dikenal sebagai orator yang mampu menyulut emosi pendengar dengan kata-kata tajam dan penuh dramatisasi. Karismanya segera menarik perhatian Adolf Hitler, yang melihat potensi besar dalam dirinya. Pada 1929, Hitler mengangkat Goebbels sebagai kepala propaganda Nazi.
Di posisi inilah karier Goebbels meroket. Ia merancang kampanye politik yang efektif, menggunakan poster, radio, film, dan koran untuk menyebarkan pesan Nazi. Bagi Goebbels, propaganda bukan sekadar alat komunikasi, tetapi senjata ideologis. Ia menciptakan mitos tentang Hitler sebagai “Penyelamat Jerman” sekaligus menyebarkan kebencian mendalam terhadap Yahudi. Propaganda antisemit yang ia sebarkan—termasuk melalui film-film seperti Der Ewige Jude (Yahudi Abadi)—menjadi fondasi ideologis bagi Holocaust.
Sebagai Menteri Propaganda sejak 1933, Goebbels memiliki kendali penuh atas media di Jerman. Ia menyensor semua berita yang dianggap merugikan Nazi dan hanya menampilkan narasi yang menguntungkan rezim. Melalui pidato-pidatonya, Goebbels membangkitkan semangat rakyat Jerman untuk mendukung perang. Salah satu pidato terkenalnya, “Totaler Krieg” (Perang Total) pada 1943, mendorong rakyat agar mengorbankan segalanya demi kemenangan, meskipun Jerman sudah berada di ambang kekalahan.
Goebbels juga dikenal sangat setia kepada Hitler, bahkan hingga detik terakhir. Ketika pasukan Sekutu semakin mendekati Berlin pada April 1945, ia dan istrinya, Magda, tetap tinggal di bunker Hitler. Setelah Hitler bunuh diri pada 30 April 1945, Goebbels sempat menjabat Kanselir Jerman selama sehari. Namun, ia menolak melarikan diri atau menyerah kepada musuh. Pada 1 Mei 1945, Goebbels dan Magda meracuni enam anak mereka di bunker, lalu bunuh diri dengan menelan sianida. Tubuh mereka kemudian dibakar oleh prajurit SS agar tidak jatuh ke tangan musuh.
Tragedi keluarga Goebbels menjadi akhir yang suram dari seorang propagandis fanatik. Kehidupannya menunjukkan bagaimana kata-kata bisa digunakan untuk membutakan nurani sebuah bangsa. Tanpa propaganda Goebbels, ide-ide Hitler mungkin tidak akan menemukan resonansi sebesar itu di kalangan rakyat Jerman. Ia adalah bukti bahwa senjata paling mematikan dalam politik bukanlah peluru, melainkan manipulasi pikiran.