Daftar Isi
Otto Adolf Eichmann lahir pada 19 Maret 1906 di Solingen, Jerman, dalam keluarga kelas menengah. Pada masa mudanya, ia tidak menunjukkan tanda-tanda akan menjadi tokoh penting. Ia bekerja di perusahaan minyak dan hidup biasa-biasa saja. Namun, krisis ekonomi dan gelombang nasionalisme radikal mendorongnya bergabung dengan Partai Nazi pada 1932. Dari sinilah jalan hidupnya berubah drastis.
Pada 1934, Eichmann masuk SS, organisasi elite Nazi yang dipimpin Heinrich Himmler. Bakatnya dalam organisasi membuat ia cepat naik pangkat. Ia ditempatkan di Judenreferat (Bagian Yahudi) di Gestapo, tempat ia mulai mendalami kebijakan antisemit Nazi. Eichmann dikenal sebagai sosok rajin, rapi, dan sangat patuh. Ketika Nazi mulai merencanakan deportasi Yahudi ke wilayah-wilayah pendudukan, Eichmann diberi peran penting: menyusun sistem transportasi yang akan mengangkut jutaan orang ke kamp-kamp.
Puncak karier Eichmann terjadi pada Konferensi Wannsee, Januari 1942. Pertemuan itu meresmikan “Solusi Akhir” — rencana pemusnahan orang Yahudi Eropa. Eichmann hadir sebagai sekretaris sekaligus perancang detail logistik. Ia menghitung berapa kereta dibutuhkan, bagaimana jadwal deportasi berjalan, dan bagaimana distribusi korban diarahkan ke kamp pembantaian. Semua dilakukan dengan ketelitian seorang pejabat transportasi, seakan-akan ia sedang mengatur perjalanan barang, bukan manusia.
Setelah kekalahan Nazi pada 1945, Eichmann ditangkap oleh pasukan Amerika. Namun, ia berhasil melarikan diri dengan identitas palsu dan bersembunyi selama beberapa tahun di Jerman. Pada 1950, ia kabur ke Argentina menggunakan jaringan pelarian Nazi yang dikenal sebagai Ratlines. Di sana ia hidup dengan nama samaran “Ricardo Klement,” bekerja sederhana, dan berusaha menghilang dari radar dunia internasional.
Namun, masa pelariannya berakhir pada 1960. Agen intelijen Israel, Mossad, berhasil melacak keberadaannya di Buenos Aires. Dalam operasi rahasia spektakuler, Eichmann diculik dan dibawa ke Israel untuk diadili. Pengadilan Eichmann pada 1961 di Yerusalem menjadi momen penting dalam sejarah hukum internasional. Untuk pertama kalinya, seorang birokrat Nazi diadili secara terbuka atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Selama persidangan, Eichmann berulang kali berdalih bahwa dirinya hanya “menjalankan perintah” dan tidak pernah secara pribadi membunuh siapapun. Namun, pengadilan menolak alasan itu. Bukti menunjukkan bahwa tanpa kerja administratif Eichmann, Holocaust tidak mungkin berjalan seefisien itu. Ia dinyatakan bersalah atas kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida. Pada 31 Mei 1962, Eichmann dieksekusi gantung di Israel — satu-satunya hukuman mati yang pernah dijatuhkan oleh pengadilan Israel.
Kisah Eichmann menegaskan konsep yang disebut filsuf Hannah Arendt sebagai “banalitas kejahatan”: bahwa kekejaman luar biasa bisa lahir dari individu biasa yang sekadar patuh pada sistem. Eichmann bukan monster sadis dalam arti tradisional, melainkan seorang pegawai rajin yang menggunakan keterampilannya untuk memfasilitasi pembunuhan massal.