Daftar Isi
Heinrich Himmler lahir pada 7 Oktober 1900 di München, Jerman, dari keluarga kelas menengah. Ia tumbuh sebagai anak yang rajin, religius, dan disiplin. Awalnya Himmler bercita-cita menjadi perwira militer, tetapi Perang Dunia I berakhir terlalu cepat sebelum ia sempat benar-benar bertugas. Setelah perang, ia menempuh pendidikan di bidang pertanian, yang kelak membentuk obsesinya terhadap “kemurnian ras” dan “koloni petani Jerman” di wilayah timur Eropa.
Ketertarikannya pada nasionalisme radikal dan antisemitisme membawanya bergabung dengan Partai Nazi pada awal 1920-an. Di sinilah ia bertemu Adolf Hitler, sosok yang kemudian menentukan jalan hidupnya. Pada 1929, Himmler dipercaya memimpin SS, yang saat itu hanya berjumlah 300 orang. Di bawah kepemimpinannya, SS tumbuh menjadi organisasi paramiliter elite dengan jutaan anggota yang loyal mutlak pada Hitler. Himmler mengubah SS dari sekadar pengawal pribadi menjadi institusi kuat yang mengendalikan polisi rahasia (Gestapo), kamp konsentrasi, hingga unit militer Waffen-SS.
Kekuatan Himmler semakin besar ketika ia ditunjuk sebagai Reichsführer-SS. Ia berambisi menjadikan SS sebagai “orde baru” bangsa Jerman, di mana keanggotaan hanya terbuka untuk pria berketurunan “murni Arya.” Himmler bahkan terobsesi dengan okultisme dan mitologi Jerman kuno, menjadikan SS bukan hanya organisasi militer, tetapi juga gerakan ideologis. Semua itu membuatnya menjadi tangan kanan Hitler yang paling setia sekaligus paling berbahaya.
Puncak kekuasaan Himmler terjadi saat Perang Dunia II. Ia ditugaskan untuk mengatur kebijakan pemusnahan massal terhadap orang Yahudi, Roma, homoseksual, penyandang disabilitas, dan kelompok lain yang dianggap “tidak layak hidup.” Himmler menjadi pengawas utama sistem kamp konsentrasi, termasuk Auschwitz, Treblinka, Sobibor, dan Dachau. Dialah yang memberi kewenangan kepada komandan seperti Rudolf Höss untuk menggunakan gas Zyklon B sebagai metode pembantaian massal.
Himmler juga memainkan peran besar dalam pembantaian di Front Timur. Melalui Einsatzgruppen (unit pembunuh keliling), ratusan ribu orang dieksekusi di hutan-hutan dan desa-desa Soviet. Ia memandang semua ini bukan sebagai kekejaman, melainkan sebagai “tugas berat demi masa depan Jerman.” Dalam pidatonya kepada pejabat SS, Himmler bahkan membanggakan bagaimana orang-orangnya tetap “berhati baja” meski harus melakukan genosida. Kata-kata ini menjadi bukti nyata bagaimana ideologi fanatik dapat mematikan empati manusia.
Namun, kekuasaan Himmler mulai runtuh ketika Jerman mendekati kekalahan. Pada 1945, tanpa sepengetahuan Hitler, Himmler berusaha melakukan negosiasi damai dengan Sekutu Barat. Tindakan ini dianggap pengkhianatan oleh Hitler, yang segera memecatnya dari semua jabatan. Setelah Nazi runtuh, Himmler mencoba melarikan diri dengan identitas palsu sebagai seorang prajurit biasa. Namun, ia tertangkap oleh pasukan Inggris.
Pada 23 Mei 1945, sebelum sempat diadili, Himmler bunuh diri dengan menelan kapsul sianida yang ia sembunyikan di mulutnya. Kematian itu menutup karier salah satu penjahat perang paling berpengaruh dalam sejarah. Tidak seperti Hitler yang mati di bunker, Himmler memilih cara cepat untuk menghindari pengadilan. Meski begitu, jejak kekejamannya tetap abadi dalam sejarah, terutama sebagai otak di balik Holocaust yang menewaskan enam juta orang Yahudi.