Daftar Isi
Hermann Wilhelm Göring lahir pada 12 Januari 1893 di Rosenheim, Jerman, dari keluarga militer. Sejak muda, ia tertarik pada dunia penerbangan dan bergabung dengan Angkatan Udara Jerman saat Perang Dunia I. Göring dikenal sebagai pilot tempur ulung dan akhirnya memimpin Jagdstaffel 1, skuadron legendaris yang sebelumnya dipimpin Manfred von Richthofen alias “The Red Baron”. Prestasinya di udara membuatnya dijuluki pahlawan nasional.
Setelah perang, Göring sempat terjun ke dunia sipil, tetapi kekecewaan terhadap kekalahan Jerman membawanya ke politik. Pada awal 1920-an, ia bertemu Adolf Hitler dan segera menjadi salah satu pendukung paling setianya. Göring bergabung dengan Partai Nazi dan ikut serta dalam kudeta gagal “Beer Hall Putsch” 1923, di mana ia terluka parah. Sejak saat itu, loyalitasnya pada Hitler tak tergoyahkan.
Karier politik Göring meroket setelah Nazi berkuasa pada 1933. Ia diangkat menjadi Presiden Reichstag (parlemen Jerman) dan memegang jabatan penting dalam pemerintahan. Namun, pengaruh terbesarnya muncul saat Hitler menunjuknya sebagai komandan Luftwaffe. Göring membangun kembali angkatan udara Jerman yang dilarang oleh Perjanjian Versailles. Di bawah pimpinannya, Luftwaffe menjadi salah satu kekuatan udara paling ditakuti di dunia menjelang pecahnya Perang Dunia II.
Selain itu, Göring juga diberi kendali atas ekonomi Jerman melalui Four Year Plan (Rencana Empat Tahun) pada 1936. Ia bertugas mempersiapkan Jerman menghadapi perang besar dengan mempercepat industrialisasi, meningkatkan produksi senjata, dan menguasai sumber daya alam. Jabatan ini memberinya kekuasaan luar biasa, sekaligus kesempatan untuk memperkaya diri melalui korupsi dan penyitaan harta dari wilayah pendudukan serta dari korban Yahudi.

Pada tahun-tahun awal perang, Göring sempat dipuja karena keberhasilan Luftwaffe dalam serangan kilat (Blitzkrieg) terhadap Polandia, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya. Namun, reputasinya mulai runtuh setelah kegagalan Luftwaffe dalam Pertempuran Inggris tahun 1940. Göring terlalu percaya diri bahwa pesawat Jerman akan mampu menghancurkan Royal Air Force, tetapi kenyataan di lapangan membuktikan sebaliknya. Kekalahan ini menjadi titik balik yang melemahkan Nazi di front barat.
Kegagalan Göring semakin nyata saat Luftwaffe tidak mampu melindungi pasukan Jerman di Stalingrad dan menghadapi serangan udara besar-besaran Sekutu terhadap kota-kota Jerman. Sementara militernya terpuruk, gaya hidup Göring justru semakin mewah. Ia dikenal sebagai pejabat Nazi terkaya, mengoleksi karya seni curian dari Eropa, serta hidup berfoya-foya di tengah penderitaan rakyat.
Sebagai tangan kanan Hitler, Göring awalnya disebut-sebut sebagai penerus resmi Führer. Namun, menjelang akhir perang, kepercayaannya pada kemenangan Jerman mulai goyah. Pada April 1945, saat Hitler terjebak di bunker Berlin, Göring mencoba mengambil alih kekuasaan dengan alasan menyelamatkan negara. Tindakannya dianggap pengkhianatan, sehingga Hitler segera mencopot semua jabatannya dan memerintahkan penangkapannya.
Setelah Jerman menyerah, Göring ditangkap oleh pasukan Amerika. Ia menjadi terdakwa utama dalam Pengadilan Nuremberg, di mana ia membela diri dengan retorika tajam. Meski demikian, bukti keterlibatannya dalam kejahatan perang, Holocaust, dan agresi militer terlalu kuat. Ia dijatuhi hukuman mati dengan cara digantung. Namun, pada malam sebelum eksekusi, 15 Oktober 1946, Göring berhasil bunuh diri dengan menelan kapsul sianida yang disembunyikan.
Akhir hidup Hermann Göring menutup perjalanan seorang pria yang pernah berada di puncak kekuasaan, namun jatuh karena keserakahan, ambisi, dan kegagalan. Ia tetap dikenang sebagai salah satu tokoh paling berkuasa sekaligus paling tercela dalam lingkaran dalam Hitler.