Sahabat Informasi

Temukan Pengetahuan Terbaru dan Terpercaya di SahabatInformasi.com

Nasionalisasi BCA: Nasionalisme atau Risiko Besar bagi Ekonomi?

Menyerahkan BCA ke negara bukan bentuk cinta tanah air—melainkan eksperimen berisiko terhadap mesin ekonomi paling sehat kita.

Salah Satu Bank BCA di Semarang
Salah Satu Bank BCA di Semarang
Author: Regina
Sumber: sahabatinformasi.com
Keterangan: Munculnya isu terkait potensi pemerintah mengambil alih 51 persen saham Bank Central Asia (BCA), salah satu bank swasta terbesar di Indonesia, memicu perhatian publik dan pasar. Isu ini menimbulkan spekulasi mengenai arah kebijakan pemerintah dalam sektor perbankan serta dampaknya terhadap kepemilikan swasta dan kinerja bank.

Belakangan muncul ide agar Bank Central Asia (BCA)—bank swasta terbesar di Indonesia—diambil alih oleh pemerintah. Bagi sebagian orang, ini terdengar patriotik: bank milik rakyat kembali ke pangkuan negara. Tapi, apakah itu benar-benar langkah bijak?

Pertanyaan yang lebih penting bukan sekadar “setuju atau tidak setuju”, melainkan: kenapa ide ini bisa muncul? Dan siapa yang sebenarnya akan diuntungkan?

Daftar Isi

BCA adalah contoh bank yang efisien. Tujuannya jelas: menghasilkan keuntungan lewat pelayanan prima, pengelolaan risiko yang cermat, dan teknologi yang terus diperbarui. Di dunia bisnis, kalau kinerja buruk, ya tamat.

Sebaliknya, banyak BUMN justru jadi alat politik. Posisi direksi dan komisaris sering diisi oleh orang-orang titipan, entah dari tim sukses atau pejabat pensiun. Fokusnya terbagi: cari untung, jalankan tugas menteri, dan akomodasi kepentingan politik. Akibatnya? Kinerja sering tersendat oleh birokrasi dan konflik kepentingan.

BCA pernah diambil alih pemerintah saat krisis 1998, lalu dijual kembali ke swasta pada 2002. Kenapa? Karena negara terbukti tidak gesit dalam mengelola bisnis. Pemerintah seharusnya mengatur lewat regulasi, bukan mengoperasikan mesin ATM yang harus aktif 24 jam.

Narasi “milik negara” sering kali hanya berarti “milik penguasa”. Rakyat tidak punya suara dalam rapat pemegang saham, apalagi bisa mengganti direksi. Faktanya, BCA sudah berkontribusi ke negara lewat pajak—tanpa harus dinasionalisasi.

Kalau tujuannya agar keuntungan BCA masuk ke kas negara, pajak sudah cukup. Kalau tujuannya agar bank BUMN bisa bersaing, solusinya bukan merebut BCA, tapi memperkuat bank pelat merah agar lebih inovatif dan efisien.

Mengambil alih BCA justru bisa membuatnya terjebak dalam birokrasi dan politik. Alih-alih memperkuat perbankan nasional, kita malah berisiko menambah daftar BUMN besar yang lamban dan akhirnya diselamatkan dengan uang rakyat.

Masalahnya bukan siapa pemilik BCA, tapi anggapan bahwa pemerintah selalu bertindak demi rakyat. Padahal, pemerintah adalah kumpulan individu dengan agenda masing-masing.

Menyerahkan bank paling efisien ke tangan politik bukan nasionalisme. Itu seperti melakukan operasi otak pada ekonomi kita—dan risikonya terlalu besar.

Oleh Regina, Rabu, 27 Agustus 2025

Related Posts

Bisnis