Daftar Isi
Bromelain adalah enzim proteolitik, yaitu enzim yang tugasnya memecah protein menjadi bagian-bagian kecil. Di dunia kuliner, bromelain sering digunakan untuk mengempukkan daging—karena ia bisa menghancurkan jaringan protein yang membuat daging terasa alot.
Nah, tubuh kita, terutama bagian dalam mulut seperti lidah, pipi, dan gusi, juga terdiri dari jaringan protein. Jadi, ketika kita makan nanas, bromelain langsung aktif dan mulai “mengurai” protein di permukaan jaringan mulut. Inilah yang menyebabkan rasa gatal, perih, atau sensasi seperti terbakar.
Semakin segar dan matang nanasnya, semakin tinggi pula kadar bromelain yang terkandung di dalamnya. Itu sebabnya, makan nanas dalam jumlah banyak bisa membuat mulut terasa tidak nyaman.
Selain digunakan untuk mengempukkan daging, bromelain juga punya manfaat medis. Dalam dosis tertentu, enzim ini digunakan sebagai suplemen untuk membantu pencernaan, meredakan peradangan, dan mempercepat penyembuhan luka. Bromelain juga dipercaya memiliki efek antiradang dan antinyeri, sehingga sering digunakan dalam terapi alternatif.
Namun, jangan khawatir. Walaupun bromelain bisa “mengurai” protein di mulut, efeknya tidak berbahaya. Begitu nanas masuk ke lambung, enzim ini akan dihancurkan oleh asam lambung dan tidak lagi aktif. Jadi, tubuh kita tetap aman.
Sensasi gatal setelah makan nanas bukanlah hal aneh, melainkan bukti bahwa buah ini punya mekanisme biologis yang unik. Bromelain bukan hanya membuat nanas berguna di dapur dan dunia medis, tapi juga menjadikannya salah satu buah paling “aktif” saat dikonsumsi.
Jadi, lain kali kamu makan nanas dan lidah terasa gatal, ingatlah: itu bukan sekadar reaksi biasa. Itu adalah interaksi kecil antara manusia dan alam—di mana buah tropis yang tampak manis itu ternyata punya cara tersendiri untuk “mengenal” kita.