Sahabat Informasi

Temukan Pengetahuan Terbaru dan Terpercaya di SahabatInformasi.com

Teknologi Beton Yang Bisa Memperbaiki Dirinya Sendiri

Apa teknologi zaman dulu yang tidak bisa dikembangkan ataupun ditiru?

Beton self-healing
Beton self-healing
Sumber: concretenews.it
Keterangan: Material self-healing semakin menarik perhatian dunia, terutama dalam bidang konstruksi, di mana beton menjadi salah satu bahan utama dalam inovasi ini. Menurut studi terbaru dari IDTechEx, penggunaan teknologi perbaikan biologis pada beton berpotensi menjadi terobosan penting untuk mengatasi masalah seperti retakan kecil, korosi, dan biaya perawatan tinggi yang sering terjadi pada infrastruktur tradisional.

Beton adalah salah satu bahan konstruksi paling penting dalam sejarah manusia. Namun, yang menarik adalah beton zaman kuno—terutama beton Romawi—memiliki sifat unik yang bahkan sampai sekarang sulit ditiru sepenuhnya. Beton Romawi kuno tidak hanya awet selama ribuan tahun, tetapi juga memiliki kemampuan memperbaiki dirinya sendiri ketika retak, sebuah teknologi yang baru belakangan ini mulai dipahami kembali. Fenomena ini membuat para insinyur modern kagum sekaligus bingung, karena meskipun teknologi konstruksi kita sudah maju, belum ada bahan beton buatan manusia yang benar-benar menyamai kehebatan beton Romawi.

Dalam dunia konstruksi, istilah “tidak bisa ditiru” bukan berarti kita sama sekali tidak bisa membuatnya, melainkan kita belum mampu menyalin persis cara kerjanya atau menciptakan beton yang punya sifat alami sama seperti peninggalan kuno. Inilah yang menjadikan beton kuno bukan hanya sekadar material, tetapi juga warisan pengetahuan yang misterius.

Daftar Isi

Konsep Beton Self-Healing
Konsep Beton Self-HealingBayangkan apabila dinding rumah Anda mengalami retakan, namun dalam waktu dua minggu retakan tersebut dapat tertutup dengan sendirinya tanpa perlu dilakukan perbaikan—sebuah konsep yang tampak luar biasa. Teknologi ini bukanlah hal baru; para arsitek Romawi kuno telah menerapkannya lebih dari dua ribu tahun lalu dengan mencampurkan abu vulkanik dari Gunung Vesuvius, kapur, dan air laut. Campuran tersebut menghasilkan reaksi kimia yang hingga kini masih menjadi objek kekaguman para ilmuwan modern. Ketika air meresap ke dalam retakan beton, sisa abu vulkanik bereaksi dan membentuk kristal baru yang menutup celah tersebut, menyerupai proses penyembuhan tulang manusia. Bukti keampuhan teknologi ini dapat dilihat dari bangunan bersejarah seperti Colosseum dan Pantheon yang tetap berdiri kokoh hingga hari ini tanpa perawatan khusus.Author: NastcoSource: iStock

Beton Romawi kuno terbuat dari campuran kapur, batu vulkanik (pozolan), dan air laut. Campuran inilah yang menciptakan reaksi kimia unik sehingga beton menjadi semakin kuat seiring berjalannya waktu. Tidak seperti beton modern yang biasanya melemah akibat retakan, beton Romawi justru bisa memperbaiki dirinya sendiri.

Ketika terjadi retakan, air laut masuk ke dalam pori-pori beton dan memicu reaksi kimia antara kapur dengan mineral vulkanik. Hasilnya, terbentuk kristal baru yang menutup retakan tersebut. Inilah yang membuat beton di pelabuhan-pelabuhan Romawi tetap kokoh walaupun sudah terendam air asin selama lebih dari 2.000 tahun.

Keunggulan lain dari beton Romawi adalah daya tahannya terhadap lingkungan ekstrem. Bangunan-bangunan seperti Pantheon di Roma masih berdiri dengan megah hingga sekarang, padahal sudah berusia hampir dua milenium. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi beton kuno tidak hanya fungsional, tetapi juga berkelanjutan dalam jangka panjang.

Rahasia besar dari beton ini sempat hilang selama berabad-abad setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi. Baru dalam beberapa dekade terakhir para ilmuwan mencoba membongkar ulang komposisi dan proses pembuatannya dengan teknologi modern.

Beton modern umumnya menggunakan semen Portland sebagai bahan utama. Semen ini kuat dalam jangka pendek, tetapi memiliki kelemahan serius: mudah retak dan rapuh terhadap perubahan iklim serta reaksi kimia dari lingkungan. Beton modern biasanya hanya tahan 50–100 tahun sebelum membutuhkan perbaikan besar.

Sebaliknya, beton Romawi semakin kuat seiring berjalannya waktu. Kelebihan ini membuatnya jauh lebih ramah lingkungan karena tidak perlu sering diperbaiki atau diganti. Jika kita membandingkan, pembangunan infrastruktur modern menghasilkan emisi karbon besar dari industri semen, sementara teknologi Romawi bisa dianggap lebih berkelanjutan.

Namun, tantangan utama dalam meniru beton Romawi adalah memahami detail proses pembuatannya. Catatan sejarah tidak lengkap, dan setiap lokasi di Romawi kuno bisa menggunakan jenis batu vulkanik berbeda. Hal ini membuat pencarian formula asli menjadi lebih rumit.

Oleh Regina, Selasa, 26 Agustus 2025

Related Posts

Teknologi