Daftar Isi
Biasanya, ubur-ubur lahir, tumbuh dewasa, lalu menua dan mati. Tapi Turritopsis dohrnii punya trik khusus yang disebut transdiferensiasi. Ketika tubuhnya stres, terluka, atau mulai menua, sel-selnya bisa berubah kembali menjadi bentuk polip—fase awal kehidupan ubur-ubur.
Dari polip ini, ia bisa tumbuh lagi menjadi ubur-ubur dewasa. Proses ini seperti menekan tombol “reset” pada kehidupan. Bayangkan manusia yang sudah tua bisa kembali menjadi bayi dan memulai hidupnya dari awal—itulah yang dilakukan ubur-ubur ini, berulang kali.
Meski disebut “abadi”, bukan berarti ubur-ubur ini tidak bisa mati sama sekali. Ia tetap bisa dimakan oleh predator, terkena penyakit, atau mati karena perubahan lingkungan. Jadi, keabadiannya bersifat biologis—bukan kebal terhadap segala hal.
Namun, kemampuan luar biasa ini tetap menarik perhatian para ilmuwan. Penelitian tentang Turritopsis dohrnii membuka peluang baru dalam memahami proses penuaan, regenerasi, dan mungkin saja—cara memperpanjang umur manusia di masa depan.
Ubur-ubur, atau jellyfish, adalah hewan laut invertebrata yang termasuk dalam filum Cnidaria, terkenal dengan tubuhnya yang transparan, berbentuk payung, dan tentakel panjang yang dilengkapi sel penyengat untuk menangkap mangsa. Hewan ini tidak memiliki tulang, otak, atau jantung, namun memiliki sistem saraf sederhana yang memungkinkan mereka merespons rangsangan lingkungan.
Ubur-ubur hidup di hampir seluruh lautan dunia, dari perairan dangkal hingga kedalaman laut yang gelap, dan memainkan peran penting dalam ekosistem sebagai predator plankton sekaligus sumber makanan bagi berbagai spesies laut lainnya. Selain keindahan bentuknya yang menawan, beberapa jenis ubur-ubur juga dapat menyengat manusia, sehingga membutuhkan kehati-hatian saat bersentuhan di alam bebas.
Dari makhluk kecil ini, kita belajar bahwa alam menyimpan banyak rahasia yang belum sepenuhnya kita pahami. Siapa sangka, ubur-ubur mungil di laut dalam bisa memberi inspirasi besar bagi dunia sains dan kesehatan.